Assalamu’alaikum,
wr. wb
Kehamilan merupakan
suatu anugerah yang didambakan bagi semua wanita. Tidak semua wanita yang sudah
menikah dapat mengalami fase kehamilan. Selama kehamilan, akan mengalami
perubahan-perubahan baik psikologis maupun fisiologisnya. Sehingga, selama
kehamilan ini diperlukan adanya dukungan positif baik dari suami maupun keluarga
untuk terus memperhatikan dan menjaga kehamilannya hingga proses persalinan
berlangsung agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Kehamilan yang tidak
terpantau kesehatannya dapat menyebabkan kesejahteraan ibu dan janin menurun.
Selain itu, ibu akan mengalami tanda-tanda bahaya yang mengganggu kehamilan
misalnya perdarahan pervaginam, sakit kepala hebat (hipertensi gravidarum), bengkak pada wajah dan tangan, nyeri
abdomen hebat (nyeri perut yang hebat), ketuban pecah dini, bayi tidak bergerak,
serta mual muntah berlebih (hyperemesis
gravidarum).
Perdarahan pervaginam
yang terjadi pada usia kehamilan masih muda dapat berupa abortus, hamil anggur (mola hidatidosa), KET (Kehamilan
Ektopik Terganggu), sedangkan pada usia kehamilan lanjut dapat berupa plasenta
previa dan solusio plasenta. Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya
abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian/seluruh
pembukaan jalan lahir. Sedangkan solusio plasenta (abruption plasenta) ialah terlepasnya plasenta dari tempat
implantasi (tempat penempelan/melekatnya plasenta) dalam masa kehamilan lebih
dari 22 minggu sebelum janin dilahirkan.
Dalam konteks kali ini,
saya ingin membahas mengenai solusio plasenta. Plasenta (ari-ari) umumnya
terletak pada korpus uteri bagian depan/belakang agak kearah fundus uteri. Hal
ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas,
sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi.
Klasifikasi solusio
plasenta dibagi menjadi 3, yaitu solusio plasenta parsialis (plasenta lepas
sebagian), solusio plasenta totalis (plasenta lepas seluruhnya), dan solusio plasenta
ringan/ruptura sinus marginalis (hanya tepi plasenta yang terlepas.
Dari gambar di atas,
terlihat bahwa di dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah, sehingga jika
terjadi solusio plasenta (abruption
plasenta) maka timbul bendungan darah di antara plasenta dan dinding uterus
yang akan mengakibatkan perdarahan. Apabila bendungan darah tersebut keluar
dari serviks maka disebut perdarahan terbuka (darah keluar dari vagina). Tetapi
terkadang darah tidak keluar hanya berkumpul di belakang plasenta membentuk hematom retroplasenta (perdarahan yang
terperangkap dalam cavum uteri), perdarahan semacam ini disebut
perdarahan tersembunyi.
perdarahan tersembunyi.
Gejala yang dapat
dirasakan oleh ibu ketika mengalami solusio plasenta, yaitu perdarahan yang
disertai nyeri, anemia berat dan syok, gawat janin/hilangnya DJJ (Denyut Jantung
Janin), rahim keras/menegang seperti papan dan terasa nyeri saat dipegang
karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta
hingga rahim teregang (uterus en bois).
Penyebab utama dari
solusio plasenta masih belum diketahui dengan jelas. Meskipun demikian,
faktor-faktor yang di duga dapat mempengaruhi terjadinya solusio plasenta
meliputi hipertensi kronis, tali pusat yang pendek karena pergerakan janin yang
banyak atau bebas, trauma abdomen seperti terjatuh terkelungkup, umur ibu (<
20 tahun atau > 35 tahun, defisiensi besi (kekurangan zat besi), merokok,
alkohol, peredaran darah ibu terganggu sehingga suplay darah ke janin tidak
ada, hidramnion (kelebihan cairan
ketuban), maupun gemelli (kehamilan
ganda/kembar).
Plasentalah yang akan
memberi makanan pada janin, mengeluarkan sisa metabolisme (ekskresi),
mengeluarkan karbon dioksida (respirasi/pernafasan), membentuk hormon, serta
menyalurkan antibody dari ibu ke janin. Mengingat bahwa betapa pentingnya peran
plasenta untuk mempertahankan kondisi janin, maka jika terjadi solusio plasenta
yang bergantung pada luasnya plasenta yang terlepas dapat menimbulkan asfiksia
ringan (kesulitan bernafas) hingga kematian janin.
Jika janin masih hidup,
gawat janin dan pembukaan belum lengkap, maupun janin telah meninggal namun
tidak memungkinkan untuk persalinan pervaginam dalam waktu yang singkat, maka
dapat mengambil tindakan ceasear.
Tetapi jika janin masih hidup, gawat janin dan pembukaan lengkap, maupun janin
telah meninggal dan pembukaan serviks >2 cm, maka dapat mengambil tindakan
persalinan pervaginam (persalinan
normal melalui vagina).
Membicarakan mengenai
solusio plasenta, sebenanya masih banyak lagi. Namun, walaupun sedikit yang
saya paparkan semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan seputar
tanda-tanda bahaya dalam kehamilan khususnya solusio plasenta. Sekian yang
dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wabilahi taufiq walhidayah.
Wassalamu’alaikum, wr.wb
Daftar pustaka:
Kemenkes RI. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan
Rujukan. Jakarta
Alvionita, Gena, dkk. 2013. Solusio Plasenta dan Rujukannya. STIKes
Mercubaktijaya Padang
Ditulis oleh:
Mahasiswi D III Kebidanan
Anak Asuh Yayasan Kemaslahatan Umat
Yogyakarta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar