Senin, 26 September 2016

Solusio Plasenta

Assalamu’alaikum, wr. wb

Kehamilan merupakan suatu anugerah yang didambakan bagi semua wanita. Tidak semua wanita yang sudah menikah dapat mengalami fase kehamilan. Selama kehamilan, akan mengalami perubahan-perubahan baik psikologis maupun fisiologisnya. Sehingga, selama kehamilan ini diperlukan adanya dukungan positif baik dari suami maupun keluarga untuk terus memperhatikan dan menjaga kehamilannya hingga proses persalinan berlangsung agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Kehamilan yang tidak terpantau kesehatannya dapat menyebabkan kesejahteraan ibu dan janin menurun. Selain itu, ibu akan mengalami tanda-tanda bahaya yang mengganggu kehamilan misalnya perdarahan pervaginam, sakit kepala hebat (hipertensi gravidarum), bengkak pada wajah dan tangan, nyeri abdomen hebat (nyeri perut yang hebat), ketuban pecah dini, bayi tidak bergerak, serta mual muntah berlebih (hyperemesis gravidarum).
Perdarahan pervaginam yang terjadi pada usia kehamilan masih muda dapat berupa abortus, hamil anggur (mola hidatidosa), KET (Kehamilan Ektopik Terganggu), sedangkan pada usia kehamilan lanjut dapat berupa plasenta previa dan solusio plasenta. Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian/seluruh pembukaan jalan lahir. Sedangkan solusio plasenta (abruption plasenta) ialah terlepasnya plasenta dari tempat implantasi (tempat penempelan/melekatnya plasenta) dalam masa kehamilan lebih dari 22 minggu sebelum janin dilahirkan.
Dalam konteks kali ini, saya ingin membahas mengenai solusio plasenta. Plasenta (ari-ari) umumnya terletak pada korpus uteri bagian depan/belakang agak kearah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi.
Klasifikasi solusio plasenta dibagi menjadi 3, yaitu solusio plasenta parsialis (plasenta lepas sebagian), solusio plasenta totalis (plasenta lepas seluruhnya), dan solusio plasenta ringan/ruptura sinus marginalis (hanya tepi plasenta yang terlepas.

Plasenta
Dari gambar di atas, terlihat bahwa di dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah, sehingga jika terjadi solusio plasenta (abruption plasenta) maka timbul bendungan darah di antara plasenta dan dinding uterus yang akan mengakibatkan perdarahan. Apabila bendungan darah tersebut keluar dari serviks maka disebut perdarahan terbuka (darah keluar dari vagina). Tetapi terkadang darah tidak keluar hanya berkumpul di belakang plasenta membentuk hematom retroplasenta (perdarahan yang terperangkap dalam cavum uteri), perdarahan semacam ini disebut 
                                                                             perdarahan tersembunyi.
Gejala yang dapat dirasakan oleh ibu ketika mengalami solusio plasenta, yaitu perdarahan yang disertai nyeri, anemia berat dan syok, gawat janin/hilangnya DJJ (Denyut Jantung Janin), rahim keras/menegang seperti papan dan terasa nyeri saat dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim teregang (uterus en bois).
Penyebab utama dari solusio plasenta masih belum diketahui dengan jelas. Meskipun demikian, faktor-faktor yang di duga dapat mempengaruhi terjadinya solusio plasenta meliputi hipertensi kronis, tali pusat yang pendek karena pergerakan janin yang banyak atau bebas, trauma abdomen seperti terjatuh terkelungkup, umur ibu (< 20 tahun atau > 35 tahun, defisiensi besi (kekurangan zat besi), merokok, alkohol, peredaran darah ibu terganggu sehingga suplay darah ke janin tidak ada, hidramnion (kelebihan cairan ketuban), maupun gemelli (kehamilan ganda/kembar).
Plasentalah yang akan memberi makanan pada janin, mengeluarkan sisa metabolisme (ekskresi), mengeluarkan karbon dioksida (respirasi/pernafasan), membentuk hormon, serta menyalurkan antibody dari ibu ke janin. Mengingat bahwa betapa pentingnya peran plasenta untuk mempertahankan kondisi janin, maka jika terjadi solusio plasenta yang bergantung pada luasnya plasenta yang terlepas dapat menimbulkan asfiksia ringan (kesulitan bernafas) hingga kematian janin.
Jika janin masih hidup, gawat janin dan pembukaan belum lengkap, maupun janin telah meninggal namun tidak memungkinkan untuk persalinan pervaginam dalam waktu yang singkat, maka dapat mengambil tindakan ceasear. Tetapi jika janin masih hidup, gawat janin dan pembukaan lengkap, maupun janin telah meninggal dan pembukaan serviks >2 cm, maka dapat mengambil tindakan persalinan pervaginam (persalinan normal melalui vagina).
Membicarakan mengenai solusio plasenta, sebenanya masih banyak lagi. Namun, walaupun sedikit yang saya paparkan semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan seputar tanda-tanda bahaya dalam kehamilan khususnya solusio plasenta. Sekian yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wabilahi taufiq walhidayah.

Wassalamu’alaikum, wr.wb

Daftar pustaka:
Kemenkes RI. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta
Alvionita, Gena, dkk. 2013. Solusio Plasenta dan Rujukannya. STIKes Mercubaktijaya Padang

Ditulis oleh:
Tri Widarti
Mahasiswi D III Kebidanan
Anak Asuh Yayasan Kemaslahatan Umat Yogyakarta